4. Sudan
Di kalangan Suku Nuer di Sudan Selatan, pernikahan gaib memiliki karakteristik khusus. Ketika seorang pria meninggal tanpa keturunan laki-laki, kerabat laki-lakinya sering kali menikahi istri yang ditinggalkan oleh pria yang telah meninggal.
BACA JUGA:Legenda Sepasang Batu di Tepi Danau Laut Tawar Aceh
Ayah biologis pria tersebut kemudian berperan sebagai suami secara sosial, tetapi arwah pria yang telah meninggal dianggap sebagai ayah secara hukum.
Praktik semacam ini sering kali terjadi ketika pria Nuer meninggal akibat pertikaian, dan tujuannya adalah untuk melindungi harta dan garis keturunan dari pria yang telah meninggal.
Dalam pernikahan gaib ini, janda menerima pembayaran, termasuk uang darah dari orang yang bertanggung jawab atas kematian suaminya, serta pembayaran dalam bentuk ternak yang dulunya dimiliki oleh suami yang telah meninggal.
Praktik ini berfungsi sebagai cara untuk menjaga ketertiban sosial melalui redistribusi harta dan kekayaan.
5. Amerika Serikat
BACA JUGA:Daftar 5 Kisah Legendaris Anak Durhaka pada Ibu, Ada Malin Kundang
Di kalangan penganut Mormonisme di Amerika Serikat, konsep pernikahan dianggap sebagai ikatan abadi, sementara kematian dianggap sebagai momen singkat dalam perjalanan roh.
Dalam pandangan ini, ikatan pernikahan memiliki keberlakuan bagi pasangan tidak hanya selama hidup di dunia ini, tetapi juga setelah kematian, asalkan pasangan tersebut hidup sesuai dengan tafsiran Gereja Orang Suci Zaman Akhir (OSZA) terhadap ajaran Yesus Kristus.
Para penganut Mormon meyakini bahwa pernikahan dapat berlanjut dalam kehidupan setelah kematian, sehingga upacara pernikahan dapat dilakukan bagi individu yang sudah meninggal.
Konsep ini serupa dengan keyakinan tentang pembaptisan Mormon yang juga dapat diadakan untuk seseorang setelah meninggal dunia.
BACA JUGA:Daftar 5 Kisah Legendaris Anak Durhaka pada Ibu, Ada Legenda Batu menangis
Upacara pernikahan dan pembaptisan secara perwakilan ini dijalankan di tempat ibadah OSZA dan hanya dihadiri oleh keturunan orang yang telah meninggal.
Namun, seperti yang diulas oleh Max Perry dalam Slate pada tahun 2012, situasinya tidak selalu demikian.