Ia mengucapkan selamat tinggal kepada sang Saudagar, dan berjalan pergi.
Keesokan harinya, sang Saudagar terbangun dengan kedua kakinya lumpuh.
Ia merasa kesakitan dan ketakutan. Ia mencoba mencari pertolongan dari tabib-tabib terkenal, tetapi tidak ada yang dapat menyembuhkannya. Ia merasa putus asa dan menyesal atas perbuatannya.
BACA JUGA:Tradisi Menugal Membuka Keberlanjutan Budaya Kearifan Lokal
Pengemis berkaki pincang muncul kembali di depan pintu rumahnya. Ia memberitahu sang Saudagar bahwa ia dapat disembuhkan jika ia mau merubah perilaku sombong dan kikirnya.
Ia juga memberikan syarat untuk kesembuhan sang Saudagar: pergi ke Gunung Karang untuk bertapa selama tujuh hari tujuh malam, dan memberikan setengah dari kekayaannya kepada orang miskin.
Sang Saudagar setuju dengan syarat tersebut, meskipun ia merasa berat untuk melepaskan kekayaannya.
Ia pergi ke Gunung Karang dengan susah payah, dibantu oleh beberapa pelayannya.
BACA JUGA:Usai Habisi Korban di Tepian Mandi, Yansen Menyerahkan Diri ke Polisi
Di sana, ia bertapa dengan tekun, memohon ampun kepada Tuhan atas dosa-dosanya.
Keajaiban Batu Kuwung
Setelah tujuh hari tujuh malam berlalu, sang Saudagar mandi di mata air panas Batu Kuwung, yang terletak di dekat tempat bertapanya.
Ketika ia keluar dari air panas, keajaiban terjadi: kakinya sembuh. Ia dapat berjalan lagi dengan normal.
BACA JUGA:Lagi! Pemprov Sumatera Selatan Perpanjang TMC
Ia merasa sangat bersyukur dan gembira. Ia menyadari bahwa Tuhan telah memberinya kesempatan kedua untuk hidup lebih baik.
Ia kembali ke rumahnya, dan membagi kekayaannya kepada orang miskin. Ia juga memberikan tanah kepada petani yang pernah ditindasnya, dan menghapus hutang-hutang mereka.